Seratus News
Semangat Kita
Seratus News
Ilustrasi
SERATUSNEWS.ID, PAREPARE — Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan (Sulsel), merilis daerah yang menjadi sampel pendataan mengalami deflasi.
Kepala BPS Sulsel, Suntono menyebutkan ada lima empat dari lima kota yang menjadi sampel pendataan yang alami deflasi.
“Ada lima daerah yang menjadi sampel pendataan dan mewakili dari 24 kabupaten dan kota di Sulsel. Di bulan Agustus 2022, ada empat yang deflasi dan satu kota lainnya itu inflasi,” jelasnya.
Suntono mengatakan, tiga kota lainnya yang alami deflasi yakni Kota Makassar (-0,29 persen), Bulukumba (-0,60 persen), dan Kota Parepare (-0,11 persen), sedangkan Kota Palopo inflasi 0,26 persen.
Menurutnya, secara kumulatif Sulsel mengalami deflasi 0,27 persen atau terjadi penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 112,31 pada Juli 2022 menjadi 112,00 pada Agustus 2022.
Suntono menjelaskan, deflasi terjadi karena adanya penurunan harga yang signifikan pada tiga kelompok pengeluaran.
Kelompok tersebut makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,81 persen. Kemudian kelompok kesehatan sebesar 0,01 persen dan kelompok transportasi 1,02 persen.
Sedangkan delapan kelompok lainnya mengalami inflasi yaitu kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,32 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar lainnya sebesar 0,16 persen.
Kemudian kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,33 persen, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,02 persen, dan kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,07 persen.
Selain itu kelompok pendidikan sebesar 0,01 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,13 persen, dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,13 persen.
Adapun komoditi yang memberikan sumbangan inflasi pada kelompok ini adalah: ikan cakalang, ikan layang, telur ayam ras, air kemasan, upah pembantu rumah tangga, kangkung, tarif listrik, kol putih, wortel dan jagung manis.
Sementara penyeimbang atau komoditas yang mengalami deflasi yakni bawang merah, angkutan udara, cabai rawit, minyak goreng, daging ayam ras, cabai merah, tempe, tomat, asam, dan emas perhiasan.
Tingkat inflasi tahun kalender di provinsi itu sebesar 3,79 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Agustus 2022 terhadap Agustus 2021) sebesar 5,03 persen. (*/hsl)
Anda harus masuk untuk berkomentar.