Anda belum login
Anda belum login
Sign InorSign Up
Email
Password
Nama
Email
Password
Ulangi Password
Email
Password
Nama
Email
Password
Ulangi Password
Pencarian
INVESTOR.id
Grafis harga BBM
JAKARTA, investor.id – Berdasarkan hasil survey Ipsos SEA Ahead gelombang keenam, 71% masyarakat Asia Tenggara mengakui situasi Covid-19 di negara mereka sudah terkendali dan percaya pandemi telah menjadi endemi. Kekhawatiran masyarakat terhadap situasi pandemi telah mereda. Pada laporan yang sama terlihat keuangan personal (22%) dan inflasi (21%) menjadi kekhawatiran terbesar masyarakat Asia Tenggara saat ini.
Hal ini selaras dengan hasil survey Ipsos Global Advisor What Worries The World yang menunjukkan inflasi menjadi kekhawatiran berbesar masyarakat dunia saat ini (39%), sedangkan Covid-19 berada diurutan kesembilan (16%).
SEA Ahead merupakan rangkaian survei Ipsos untuk memahami perkembangan opini dan perilaku konsumsi masyarakat di Asia Tenggara selama pandemi. Survei ini merupakan survei gelombang keenam yang diadakan secara online dengan melibatkan total 3.000 responden untuk Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Filipina, selama bulan Mei dan Juni 2022.
Sedangkan Ipsos Global Advisor  What Worries The World merupakan survei berskala global yang mencakup 28 negara di dunia, termasuk Indonesia di antaranya, dengan melibatkan total 19.508 responden, selama Juli dan Agustus 2022.
Optimisme Ekonomi Nasional di Tengah Tekanan Inflasi Pemulihan ekonomi nasional akibat pandemi terus dibayangi oleh kekhawatiran masyarakat terhadap inflasi. Dalam laporan Ipsos Global Advisor – What Worries The World, 67% masyarakat dunia pesimis dengan situasi ekonomi negaranya.
Namun berbeda dengan masyarakat Indonesia, yang mayoritas 61% menyatakan situasi ekonomi nasional saat ini baik. Secara peringkat Indonesia berada pada peringkat ketiga tertinggi dibandingkan negara lainnya, setelah Arab pada peringkat pertama (97%) dan India peringkat kedua (78%). Terlebih lagi pada laporan yang sama diketahui bahwa tingkat kekhwatiran masyarakat Indonesia terhadap inflasi terendah (19%) dibandingkan 27 negara lainnya.
Pada laporan Ipsos SEA Ahead gelombang ke-6, diketahui rata-rata (54%) masyarakat Asia Tenggara mengaku optimistis akan ekonomi nasional negaranya akan lebih kuat dalam 6 bulan ke depan. Indonesia sendiri, optimisme masyarakatnya (77%) berada pada peringkat tertinggi dibandingkan negara Asia Tenggara lainnya.
“Meskipun inflasi dan ekonomi global yang tak menentu, tetapi dari hasil kedua survei yang dilakukan Ipsos, baik SEA Ahead maupun Global Advisor, keduanya secara konsisten menunjukkan adanya sentimen positif masyarakat terhadap iklim ekonomi nasional saat ini dan ke depannya. Tinggnya optimisme masyarakat ini sangat berpengaruh terhadap pemulihan ekonomi dan konsumsi masyarakat itu sendiri,” ujar Soeprapto Tan, Managing Director Ipsos in Indonesia.
Konsumsi Masyarakat Terpengaruh Kenaikan Harga
Pada laporan SEA Ahead gelombang 6 ini, terlihat dampak gelombang inflasi global tak terelakkan dan turut berdampak pada negara-negara Asia Tenggara. Mayoritas (96%) konsumen Asia Tenggara mengatakan kenaikan harga memiliki dampak signifikan pada kehidupan mereka.
Di Indonesia, 46% konsumen mengatakan bahwa mereka “sangat terpengaruh” oleh kenaikan harga. Kategori produk yang dirasakan mayoritas konsumen Indonesia mengalami kenaikan harga signifikan, yaitu makanan (87%), gas (68%), dan minuman (52%).
Meskipun demikian, mereka terus melakukan pembelian untuk kebutuhan pokok seperti; makanan, produk pembersih, dan produk perawatan pribadi. Sedangkan, pada pengeluaran sekunder/kesenangan, seperti perjalanan domestik maupun internasional, kegiatan-kegiatan kebudayaan, dan lainnya, konsumen mulai melakukan penghematan.
Selain itu, sebagian besar (40%) konsumen masih ragu-ragu untuk melakukan pembeliaan dalam jumlah besar atau big ticket purchase, seperti rumah dan mobil.
“Kenaikan harga barang-barang rumah tangga, seperti makanan, gas, dan minuman, akibat inflasi mulai mempengaruhi daya beli konsumen. Meskipun kita lihat optimisme masyarakat Indonesia terhadap ekonomi nasional positif, namun mereka akan lebih kritis dan berhati-hati dalam berbelanja dan memilih produk,” tambah Soeprapto Tan.
Mayoritas konsumen masih memilih lebih banyak berbelanja online, meskipun di antara mereka sudah berbelanja secara offline, baik di supermarket, minimarket, maupun pasar dan toko konvensional seminggu sekali atau lebih.
Khususnya konsumen Indonesia (59%) yang mengaku lebih sering berbelanja online saat ini dibandingkan dengan 6 bulan lalu. E-commerce adalah saluran belanja online paling banyak digunakan konsumen, dibandingkan melalui media sosial, aplikasi transportasi, maupun situs resmi.
Kategori produk yang banyak dibeli konsumen Indonesia secara online yaitu fashion dan pakaian olahraga (75%), top up saldo e-wallet maupun pembayaran tagihan (70%), serta makanan dan minuman (55%). Lebih rinci, gen Z dan milenial lebih sering menggunakan jasa layanan antar-pesan dan pembayaran digital dibandingkan gen X.
“Dengan sebagian besar Asia Tenggara bertransisi ke fase endemik Covid-19 dan mengatasi inflasi, semakin penting bagi para pemimpin untuk melatih ketahanan dan pandangan ke depan jangka panjang untuk beradaptasi terhadap perubahan yang cepat dan kompleks. Masa inflasi memang menantang—bagaimana kita akan berinovasi? Sesuaikan strategi penetapan harga? Pikirkan kembali diferensiasi merek? Di tengah ketidakpastian, jalan ke depan perlu menentukan apa yang tepat untuk konsumen Anda, menyeimbangkan keuntungan jangka pendek dan risiko jangka panjang, dan yang paling penting, membangun empati Anda untuk menciptakan hubungan nyata dengan konsumen serta mengambil tindakan yang relevan,” ujar Soeprapto Tan.
Aktivitas Masyarakat Kembali Normal
Asia Tenggara telah mengalami larangan atau pembatasan bahkan lock down yang ketat dan panjang, tingkat vaksinasi yang rendah, dan rantai pasokan yang terganggu selama dua tahun terakhir. Namun kini, masyarakat Asia Tenggara lebih bersemangat untuk bersosialisasi dengan meningkatnya jumlah vaksinasi dan kembali melambungnya pariwisata.
Dari hasil survei SEA Ahead gelombang ke-6, mayoritas masyarakat Asia Tenggara menyatakan percaya diri untuk bersantap di restoran (74%), mengunjungi keluarga/teman (77%), dan berpartisipasi dalam pertemuan/acara budaya (77%).
Sementara sebagian besar masyarakat mulai kembali ke cara pra-pandemi mereka, beberapa perilaku yang diadopsi selama pandemi tetap ada termasuk menjadi lebih sadar akan kesehatan. Di seluruh Asia Tenggara (87%) secara proaktif mengelola kesehatan dan kebugaran mereka melalui pilihan makanan dan minuman, sementara 85% membeli produk yang mendukung kesehatan dan kesejahteraan fisik dan mental mereka. Misalnya, 40% menggunakan lebih sedikit rokok elektrik dan 35% mengonsumsi lebih sedikit alkohol.
Editor : Imam Suhartadi (imam_suhartadi@investor.co.id)
Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS
Terpopuler
01
Entitas Milik Sujaka Lays, Black Diamond (COAL) Mantap IPO, Harga Dipatok Rp 100
Kamis, 1 September 2022 | 10:04 WIB
02
Dahsyat! Laba per Saham Rp 226, Namun Harga Saham BUMI Baru Rp 168
Kamis, 1 September 2022 | 09:10 WIB
03
Tak Kira-kira, Laba Bersih Bumi Resources (BUMI) Melambung 8.771%
Kamis, 1 September 2022 | 07:59 WIB
04
Super! Bumi Resources (BUMI) Mau Private Placement Rp 24 Triliun, Investornya Terafiliasi
Jumat, 2 September 2022 | 12:52 WIB
05
Emiten Favorit Kaesang Pangarep Ini (PMMP) Cetak Pendapatan US$ 100 Juta
Rabu, 31 Agustus 2022 | 22:00 WIB
Terkini
Rencana Kenaikan Harga BBM, Airlangga: Kita Tunggu Saja 
Jumat, 2 September 2022 | 20:07 WIB
Pertamina NRE – Pondera Kaji PLTB dan Hidrogen Hijau
Jumat, 2 September 2022 | 20:06 WIB
Pijar Foundation Dorong Perguruan Tinggi Gunakan Dosen dari Korporasi
Jumat, 2 September 2022 | 19:53 WIB
Indosat dan Google Cloud Perkenalkan Paket UMKM Super Combo
Jumat, 2 September 2022 | 19:28 WIB
Pengguna BukuWarung Lewati 8 Juta
Jumat, 2 September 2022 | 19:08 WIB
Copyright ©2022 Investor Daily. All Rights Reserved

source