Pada bulan Juli 2020, WHO dan UNICEF menyerukan bahwa terjadi penurunan yang mengkhawatirkan dalam jumlah anak yang menerima imunisasi,  dikarenakan  pembatasan mobilitas dan terganggunya layanan kesehatan esensial selama pandemi COVID-19.
Tenaga kesehatan kerap mengingatkan orang tua- dan keluarga tentang jadwal kunjungan anak ke Puskesmas atau Posyandu agar anak bisa mendapatkan imunisasi sesuai jadwal yang direkomendasikan. Pemerintah Indonesia berupaya keras untuk memastikan terpenuhinya hak-hak anak untuk tumbuh sehat, bebas dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.
Sebagai orang tua atau pengasuh yang bertanggung jawab, kita perlu tahu alasan pentingnya memastikan anak menerima imunisasi yang lengkap dan tepat waktu. Berikut adalah rangkuman tujuh risiko yang dapat dialami anak, keluarga, dan lingkungannya apabila kebutuhan imunisasi tidak terpenuhi tepat waktu:
Tahukah Anda, anak yang tidak menerima imunisasi lengkap dan tepat waktu akan lebih rentan mengalami berbagai penyakit yang seharusnya bisa dicegah dengan imunisasi, seperti hepatitis, TBC, batuk rejan, dan difteri? Selain itu, anak yang tidak diimunisasi juga lebih rentan terhadap masalah kesehatan lain; contohnya ketika anak terkena campak, sering mengalami komplikasi seperti diare, pneumonia, kebutaan, dan malnutrisi.
Untuk informasi lebih jauh, silakan klik: Direktur Gizi Kemenkes: Campak Erat Kaitannya dengan Kurang Gizi
 
Tahukah Anda, anak yang sedang sakit dan tidak menerima imunisasi lebih berisiko menulari orang lain di sekitarnya? Begitu pula sebaliknya; anak yang tidak diimunisasi lebih berisiko tertular penyakit.
Setiap kali seseorang sakit, maka anak, atau cucu dan orang tua, juga berisiko terkena. Orang dewasa merupakan sumber infeksi utama pertusis (batuk rejan) pada balita, penyakit ini bahkan dapat menyebabkan kematian pada bayi. Imunisasi tidak hanya melindungi diri anak, tetapi juga orang tua dan anggota keluarga lain serta orang-orang di lingkungan sekitar yang mungkin kesulitan mendapatkan akses vaksinasi.
Orang dewasa pun tetap mungkin tertular penyakit dan mengalami gejala yang ringan namun dengan komplikasi yang fatal. Ibu hamil yang tertular virus rubela, misalnya, amat berisiko melahirkan anak dengan berbagai bentuk komplikasi bawaan, disebut dengan sindrom rubela kongenital (SRK). Sementara itu, ibu hamil yang tertular virus campak berisiko mengalami keguguran.
Kasus-kasus penyakit menular di kalangan kelompok rentan dapat berkembang luas menjadi wabah di masyarakat. Untuk alasan inilah, pemerintah saat ini masih memberikan imunisasi polio kepada anak. Jika jumlah anak yang tidak mendapatkan imunisasi bertambah banyak, maka penyakit yang selama bertahun-tahun berhasil dicegah dapat kembali mewabah.
Orang tua dapat membaca lebih lanjut panduan berikut yang diterbitkan oleh Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat: Parent’s Guide to Childhood Immunizations
 
Suatu penyakit tidak hanya berdampak langsung terhadap penderita dan keluarganya, tetapi juga terhadap masyarakat secara keseluruhan. Kejadian sakit dan komplikasi penyakit dapat membutuhkan biaya tinggi dan perawatan yang memakan waktu.
Pasien difteri, misalnya, membutuhkan rawat inap segera di fasilitas kesehatan yang mampu menangani penyakit ini besertakomplikasi-komplikasinya. Pasien akan ditempatkan di ruang isolasi dan diberikan obat-obatan khusus. Penyakit campak rata-rata memerlukan hingga 15 hari perawatan, termasuk rata-rata kehilangan lima atau enam hari kerja atau sekolah bagi karyawan atau pelajar. Orang dewasa yang terkena hepatitis rata-rata tidak bisa bekerja selama satu bulan. Dalam hal bayi yang terlahir dengan SRK, ia akan membutuhkan pengobatan seumur hidup dan bantuan serta terapi medis yang berbiaya tinggi.
Penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi memiliki risiko komplikasi yang mengakibatkan disabilitas tetap. Contohnya, campak yang dapat menyebabkan kebutaan. Ada pula kelumpuhan sebagai gejala terberat yang dikaitkan dengan polio karena dapat menimbulkan disabilitas permanen dan kematian.
Baca panduan dari WHO: The child, measles, and the eye
 
Vaksinasi yang tidak lengkap menyumbang kepada penurunan angka harapan hidup. Sebaliknya, imunisasi lengkap hingga anak berusia lima tahun dapat meningkatkan angka harapan hidup. Data menunjukkan bahwa anak yang tidak menerima imunisasi lengkap lebih mungkin tertular berbagai penyakit saat masih kanak-kanak, sehingga angka harapan hidupnya pun menurun[1].
Di Papua Barat, dari tahun 2010 ke tahun 2017, angka harapan hidup meningkat berkat peran penting dari peningkatan jumlah anak yang mendapatkan imunisasi lengkap. [2]
Di Brazil, antara tahun 1940 dan 1998, angka harapan hidup saat lahir naik sekitar 30 tahun. Hal ini utamanya disebabkan oleh menurunnya angka kematian  akibat penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Imunisasi.
Beberapa negara mensyaratkan imunisasi lengkap bagi warga asing yang hendak berkunjung. Jika tidak diimunisasi, anak dapat kehilangan kesempatan untuk  mengenyam pendidikan di negara-negara ini.
Selain itu, sudah semakin banyak sekolah yang mencantumkan ‘imunisasi lengkap’ sebagai syarat pendaftaran. Tujuannya adalah agar semua anak dan warga sekolah terlindung dari penyakit yang dapat dicegah oleh vaksin dan dengan demikian anak dapat menikmati hak belajarnya secara penuh di sekolah.
UNICEF mengucapkan terima kasih pada Yusneri, SKM, MM, dari Kementerian Kesehatan RI, atas kontribusinya pada artikel ini.  
[1] https://www.who.int/bulletin/volumes/86/2/07-040089.pdf
[2] https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20180827/5827672/papua-barat-berhasil-tingkatkan-angka-harapan-hidup/
[3] http://www.scielo.br/scielo.php?script=sci_arttext&pid=S1809-98232017000600741
Cakupan Imunisasi Anak Rendah Akibat COVID-19, Pemerintah Atasi dengan Bulan Imunisasi Anak Nasional
Ketersediaan alat tes antigen memberikan kepastian dan kelegaan bagi tenaga kesehatan yang kewalahan
Kader Kesehatan di Kota Kupang Tetap Berjuang Memberikan Pelayanan Esensial di Tengah Pandemi COVID-19
Tenaga kesehatan di Papua Barat berhasil melaksanakan program imunisasi rutin di tengah pandemi

source