Tuesday, 23 Syawwal 1443 / 24 May 2022
Tuesday, 23 Syawwal 1443 / 24 May 2022

Kamis 05 May 2022 16:31 WIB
Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Muhammad Hafil
Umat Hindu di Maharashtra Hadiahkan Pengeras Suara ke Masjid Saat Idul Fitri. Foto: Ilustrasi speaker masjid.
REPUBLIKA.CO.ID,NAGPUR — Sebuah desa di Kelwad, Maharashtra, diketahui tidak memiliki satu pun rumah tangga beragama Islam. Namun, masyarakatnya yang beragama Hindu ini menghadiahkan pengeras suara ke sebuah masjid di dusun yang berdekatan, bertepatan dengan perayaan Idul Fitri.

Langkah yang diambil oleh penduduk desa seolah mengirimkan pesan dengan lantang dan jelas, di mana mereka berdiri di atas pertikaian yang sedang berlangsung mengenai penggunaan pengeras suara di tempat-tempat ibadah.

Baca Juga

Warga desa Kelwad di distrik Buldhana menjamu sekelompok Muslim dari Kinhola, sekitar 6 km jauhnya, Selasa (3/5/2022) lalu. Dalam pertemuan ini, mereka menyerahkan pengeras suara kepada ulama yang bertanggung jawab atas masjid, sebagai tanda persahabatan.

Desa Kinhola diketahui sebagai satu-satunya desa di area tersebut yang memiliki bangunan masjid. Seorang warga senior yang mencetuskan ide pemberian hadiah tersebut, Ganesh Nikam, menyebut baik Muslim dan Hindu telah hidup bersama selama berabad-abad.

“Hindu dan Muslim telah hidup bersama di desa-desa ini selama berabad-abad. Kami tidak memiliki masalah atau keluhan satu sama lain. Politisi mencoba menciptakan keretakan baru antara komunitas untuk polarisasi suara,” kata Nikam dikutip di Times of India, Kamis (5/5/2022).

Ketua Komite Perdamaian Desa, Umesh Patil, mengatakan inisiatif itu juga dimaksudkan sebagai protes simbolis. Masyarakat setempat percaya, motif di balik masalah pengeras suara yang muncul tiba-tiba adalah untuk memulai kerusuhan komunal di negara bagian. Umat Hindu dan Muslim disebut hidup damai di pedesaan Maharashtra.

Di sisi lain, seorang pekerja sosial Nandu Borbale mengimbau pemuda pedesaan untuk tidak bergabung dengan protes anti-pengeras suara.

“Baik politisi maupun orang-orang kelas atas tidak akan mengirim putra dan putri mereka untuk menyanyikan Hanuman Chalisa di depan masjid. Kami tidak menginginkan provokasi seperti itu lagi. Pemuda desa kita harus berkonsentrasi pada studi mereka,” ujar dia.

Maulana dari masjid Kinhola mengatakan tempat suci itu telah memasang pengeras suara. Tetapi, mereka dengan senang hati menerima satu lagi dari penduduk Kelwad sebagai “hadiah cinta” di masa-masa sulit.  

Sumber:

https://timesofindia.indiatimes.com/city/nagpur/on-eid-village-with-hindus-gifts-loudspeaker-to-mosque/articleshow/91329651.cms

Langkah yang diambil oleh penduduk desa seolah mengirimkan pesan dengan lantang dan jelas, di mana mereka berdiri di atas pertikaian yang sedang berlangsung mengenai penggunaan pengeras suara di tempat-tempat ibadah.

Warga desa Kelwad di distrik Buldhana menjamu sekelompok Muslim dari Kinhola, sekitar 6 km jauhnya, Selasa (3/5/2022) lalu. Dalam pertemuan ini, mereka menyerahkan pengeras suara kepada ulama yang bertanggung jawab atas masjid, sebagai tanda persahabatan.

Desa Kinhola diketahui sebagai satu-satunya desa di area tersebut yang memiliki bangunan masjid. Seorang warga senior yang mencetuskan ide pemberian hadiah tersebut, Ganesh Nikam, menyebut baik Muslim dan Hindu telah hidup bersama selama berabad-abad.

“Hindu dan Muslim telah hidup bersama di desa-desa ini selama berabad-abad. Kami tidak memiliki masalah atau keluhan satu sama lain. Politisi mencoba menciptakan keretakan baru antara komunitas untuk polarisasi suara,” kata Nikam dikutip di Times of India, Kamis (5/5/2022).

Ketua Komite Perdamaian Desa, Umesh Patil, mengatakan inisiatif itu juga dimaksudkan sebagai protes simbolis. Masyarakat setempat percaya, motif di balik masalah pengeras suara yang muncul tiba-tiba adalah untuk memulai kerusuhan komunal di negara bagian. Umat Hindu dan Muslim disebut hidup damai di pedesaan Maharashtra.

Di sisi lain, seorang pekerja sosial Nandu Borbale mengimbau pemuda pedesaan untuk tidak bergabung dengan protes anti-pengeras suara.

“Baik politisi maupun orang-orang kelas atas tidak akan mengirim putra dan putri mereka untuk menyanyikan Hanuman Chalisa di depan masjid. Kami tidak menginginkan provokasi seperti itu lagi. Pemuda desa kita harus berkonsentrasi pada studi mereka,” ujar dia.

Maulana dari masjid Kinhola mengatakan tempat suci itu telah memasang pengeras suara. Tetapi, mereka dengan senang hati menerima satu lagi dari penduduk Kelwad sebagai “hadiah cinta” di masa-masa sulit.  

Sumber:

https://timesofindia.indiatimes.com/city/nagpur/on-eid-village-with-hindus-gifts-loudspeaker-to-mosque/articleshow/91329651.cms

Dapatkan Update Berita Republika
PKT Tanam 1.500 Bibit Mangrove di Perairan Bontang
Temui Wapres, REI Sampaikan Perkembangan Program Sejuta Rumah
Charoen Pokphand Tebar Dividen Rp 108 per Saham
AP II Pastikan Bandara Kualanamu Bisa Layani Umrah
Punya Pabrik Elemented Detonator, TKDN Detonator Dahana Kini Meningkat
Nasional Inpicture

Saluran dibangun untuk mengendalikan banjir bandang yang kerap terjadi di wilayah itu
Asia

Selama ini petugas keamanan di Malaysia berasal dari Nepal
Islam Nusantara

Syarat hewan bisa menjadi qurban adalah bebas dari penyakit termasuk PMK
Liga Italia

Calhanoglu pindah ke Inter Milan pada musim panas dengan status bebas transfer.
Umum

Sapi yang terkonfirmasi PMK berasal dari Sumatera Utara.
5 PHOTO
5 PHOTO
4 PHOTO
3 PHOTO
5 PHOTO
Selasa , 24 May 2022, 05:25 WIB
Selasa , 24 May 2022, 16:25 WIB
Phone: 021 780 3747
Fax: 021 799 7903
Email:
newsroom@rol.republika.co.id (Redaksi)
sekretariat@republika.co.id (Redaksi)
marketing@republika.co.id (Marketing)
Copyright © 2018 republika.co.id, All right reserved

source