Sejak Indonesia melaporkan kasus COVID-19 pertama pada bulan Maret 2020, cakupan imunisasi rutin dalam rangka pencegahan penyakit anak seperti campak, rubella, dan difteri semakin menurun. Misalnya, tingkat cakupan imunisasi difteri, pertusis dan tetanus (DPT3) dan campak dan rubella (MR1) berkurang lebih dari 35% pada bulan Mei 2020 dibandingkan periode waktu yang sama pada tahun sebelumnya. Untuk lebih memahami efek pandemi COVID-19 terhadap imunisasi, Kementerian Kesehatan (Kementerian Kesehatan) dan UNICEF melakukan penilaian cepat pada April 2020: hasilnya menunjukkan bahwa 84% dari semua faskes melaporkan layanan imunisasi terganggu di kedua level yaitu Puskesmas dan Posyandu.
Sehubungan dengan upaya ini, sangat penting untuk memahami persepsi masyarakat tentang layanan imunisasi selama pandemi COVID-19 sebagai salah satu bahan pertimbangan untuk Kementerian Kesehatan dan mitra dalam menerapkan pendekatan komunikasi yang tepat untuk mengatasi masalah-masalah yang menjadi perhatian utama. pada 4-13 Juli 2020, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dengan dukungan UNICEF, mengadakan survei daring antara orang tua dan pengasuh anak di bawah dua tahun. Survei ini bertujuan untuk menerima masukan dari responden tentang penataan kembali pelayanan imunisasi dan upaya komunikasi yang diperlukan.
 
UNICEF Indonesia menyampaikan terima kasih untuk dukungan berbagai mitra, termasuk Pemerintah Australia, Pemerintah Kanada, dan Pemerintah Selandia Baru.
Pertemuan Penting Mendesak Prioritas Air dan Sanitasi agar Target Kesehatan, Iklim dan Ekonomi Kembali ke Jalur
Di Indonesia, banyak anak kehilangan orang tua ‘dua kali lipat’, akibat pekerjaan dan COVID-19
Para siswa menjawab kerentanan COVID-19 dan membantu sekolah melalui program Kembali Belajar dengan Aman
Cakupan Imunisasi Anak Rendah Akibat COVID-19, Pemerintah Atasi dengan Bulan Imunisasi Anak Nasional

source