Friday, 16 Zulhijjah 1443 / 15 July 2022
Friday, 16 Zulhijjah 1443 / 15 July 2022

Kamis 14 Jul 2022 19:16 WIB
Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Friska Yolandha
Spanduk himbauan waspada terhadap Covid-19 dan Hepatitis terpasang di depan Madrasah Muallimat, Yogyakarta, Jumat (20/5/2022). Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menerima laporan lebih dari 1.000 kemungkinan kasus hepatitis akut yang menimpa anak-anak di 35 negara.
REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA — Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menerima laporan lebih dari 1.000 kemungkinan kasus hepatitis akut yang menimpa anak-anak di 35 negara. Wabah ini pertama kali terdeteksi pada April lalu.
WHO mengatakan, hingga 8 Juli, tercatat ada 1.010 kasus dan 22 anak telah meninggal. Hampir setengah dari kemungkinan kasus dilaporkan di Eropa, terhitung 484 kasus tercatat di 21 negara Eropa, diikuti oleh 435 kasus di Amerika dengan 334 tercatat di Amerika Serikat, dan 272 kasus di Inggris. Sejauh ini, 17 negara telah melaporkan lebih dari lima kemungkinan kasus hepatitis akut.
“Jumlah kasus sebenarnya mungkin lebih tinggi, karena terbatasnya sistem pengawasan. Jumlah kasus diperkirakan akan berubah karena lebih banyak informasi dan data terverifikasi,” ujar pernyataan WHO, dilansir Alarabiya, Kamis (14/7/2022).
WHO menambahkan, risiko penyebaran wabah hepatitis pediatrik ini tergolong “sedang”. WHO telah mencermati masalah ini karena penyebaran virus misterius telah menyebabkan lusinan anak yang sebelumnya sehat membutuhkan transplantasi hati.
Gejala yang paling sering dilaporkan adalah mual atau muntah, penyakit kuning, kelemahan umum, dan sakit perut. Waktu rata-rata antara munculnya gejala dan rawat inap adalah empat hari.
WHO mengatakan, hepatitis A hingga E tidak ditemukan pada anak-anak yang terkena hepatitis misterius tersebut. Sementara patogen lain seperti virus korona terdeteksi dalam beberapa kasus, tetapi datanya tidak lengkap. WHO mengatakan, patogen yang paling sering terdeteksi adalah adenovirus yaitu virus yang menyebabkan berbagai penyakit seperti demam, pilek, pneumonia, dan sakit tenggorokan.
“Karena pengawasan adenovirus terbatas di sebagian besar negara, sulit untuk menilai apakah tingkat ini lebih tinggi dari tingkat yang diharapkan dalam populasi,” kata pernyataan WHO.
Dapatkan Update Berita Republika
Inilah Tujuh Golongan yang Selamat Saat Hari Kiamat
Kekuasaan Allah SWT di Balik Anugerah Keturunan untuk Nabi Zakariya
5 Alasan Ini Bisa Jadi Renungan Supaya tak Remehkan Sholat Dhuha
19 Situs Tajikistan Masuk Daftar Warisan Dunia Islam
Hikmah Medis Dilarangnya Berhubungan Intim Melalui Dubur dan Oral
Eropa

Cacar monyet telah menyebar ke 59 negara atau wilayah.
Rihlah

Nabi Zakaria berdoa meminta keturunan
Korporasi

Dalam pembangunan infrastruktur diperlukan terobosan pembiayaan.
Parenting

Butuh banyak pihak yang terlibat dengan beragam cara untuk atasi kekerasan seksual.
Keuangan

Pelatihan peternakan dari Jamkrindo fokus untuk tumbuhnya wirausahawan baru di Yogya
3 PHOTO
4 PHOTO
3 PHOTO
5 PHOTO
6 PHOTO
Jumat , 15 Jul 2022, 00:00 WIB
Kamis , 14 Jul 2022, 15:05 WIB
Phone: 021 780 3747
Fax: 021 799 7903
Email:
newsroom@rol.republika.co.id (Redaksi)
sekretariat@republika.co.id (Redaksi)
marketing@republika.co.id (Marketing)
Copyright © 2018 republika.co.id, All right reserved

source