MATAMAROS.COM – Dari bupati, kadis, hingga camat, semua membubuhkan tanda tangan pada spanduk di dinding Grand Town Hotel, Kamis, 23 Juni 2022. Semua menyatakan komitmen untuk percepatan penanganan stunting atau kekurangan gizi pada anak.
Dinas Kesehatan Kabupaten Maros mencatat, sebanyak 4.434 balita terjangkit stunting pada 2022. Jumlah tersebut jauh lebih banyak dibandingkan tahun sebelumnya, 2.892 balita.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Maros, Muhammad Yunus mengatakan, rembuk stunting yang digelar di hotel tersebut menjadi salah satu langkah. Selanjutnya akan menjadi dasar dalam gerakan penurunan stunting di Kabupaten Maros.
Tingginya angka stunting di Maros, kata Yunus, berdasarkan dugaan awal, karena banyak warga belum memilik sanitasi yang baik.
“Akses sanitasi perlu ditingkatkan, khususnya kepemilikan jamban karena merupakan potensi risiko untuk stunting,” ucapnya.
Mantan Kepala Puskesmas Bantimurung itu menyebut kolaborasi pemerintah, swasta, organisasi, dan masyarakat mutlak dibutuhkan. Kemudian melakukan komunikasi, edukasi, informasi, hingga intervensi terhadap sasaran stunting.
Bupati Maros, Chaidir Syam, mengatakan penurunan stunting memerlukan intervensi yang terpadu, mencakup intervensi gizi spesifik dan gizi sensitif.
Pihaknya pun berencana meningkatkan anggaran pencegahan stunting di Maros tahun ini.
“Tahun 2021 anggaran untuk pencegahan stuntung sekitar Rp45 miliar. Kami berencana akan meningkatkan menjadi Rp63 miliar,” tutupnya. (ast)

source