Thursday, 24 Zulqaidah 1443 / 23 June 2022
Thursday, 24 Zulqaidah 1443 / 23 June 2022
Rabu 22 Jun 2022 16:36 WIB
Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Reiny Dwinanda
Petugas mengukur tinggi badan balita saat pelaksanan Pos Pelayanan Terpadu (posyandu) di Kedaton, Bandar Lampung, Lampung, Senin (21/3/2022). Kegiatan posyandu tersebut dilakukan untuk menghindari kasus gizi buruk atau stunting pada anak dengan memberikan vitamin A dan suntikan imunisasi.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Penelitian terbaru dari South East Asian Nutrition Surveys kedua (SEANUTS II) mendapati prevalensi anak stunting dan anemia, khususnya di antara anak-anak usia di bawah lima tahun di Indonesia, masih tinggi. Sebagian anak Indonesia yang menjadi bagian dari penelitian mengenai status gizi, asupan gizi, perilaku dan gaya hidup di empat negara Asia (Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam) itu juga belum terpenuhi rata-rata asupan vitamin dan mineral yang direkomendasikan untuk tumbuh kembangnya.
SEANUTS II merupakan lanjutan SEANUTS I yang dipublikasikan pada2013. Penelitian skala besar ini dilakukan oleh FrieslandCampina, dalam rentang waktu antara 2019 dan 2021, bekerja sama dengan universitas dan lembaga penelitian terkemuka di Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam.
Studi ini melibatkan hampir 14 ribu anak antara usia enam bulan hingga 12 tahun, khusus menyoroti triple burden of malnutrition yang terdiri dari kekurangan gizi, kekurangan zat gizi mikro, dan kelebihan berat badan atau obesitas. Ketiga masalah ini sering kali terjadi berdampingan di suatu negara dan bahkan bisa terjadi dalam satu rumah tangga.
Stunting adalah salah satu bentuk dari kekurangan gizi di Indonesia yang masih menjadi isu yang perlu diperhatikan. Peneliti Utama SEANUTS II di Indonesia, Prof Rini Sekartini, menjelaskan bahwa kasus stunting masih banyak ditemukan pada anak di wilayah Jawa-Sumatra dengan prevalensi sebesar 28,4 persen.
Ini artinya, satu di antara 3,5 anak berperawakan pendek. Adapun prevalensi anemia adalah 25,8 persen pada anak di bawah lima tahun. Sementara hampir 15 persen anak usia tujuh hingga 12 tahun memiliki kelebihan berat badan atau obesitas.
“Secara keseluruhan, SEANUTS II menunjukkan bahwa permasalahan stunted atau berperawakan pendek dan anemia masih ada, terutama pada anak-anak usia dini. Namun, untuk anak yang berusia lebih tua, tingkat prevalensi kelebihan berat badan dan obesitas lebih tinggi,” kata Prof Rini dalam paparannya di Jakarta, Selasa (21/6/2022).
Dapatkan Update Berita Republika
Arsenal Dilaporkan Setuju Kesepakatan Lisan untuk Transfer Gabriel Jesus
Empat Hal yang akan Dilakukan MU Jika Perekrutan De Jong Resmi Rampung
Chelsea dan MU Siap Tampung Mantan Juru Transfer Liverpool
Sulit Dapatkan Raphinha, Arsenal Bisa Mengejar Salah Satu dari Empat Pemain Ini
Tiba-Tiba Ditinggal Mane, Klopp Ungkapkan Kesedihan dan Kekecewaan
Internasional 2
Salah satu hambatan Zidane untuk melatih Prancis adalah Didier Deschamps.
Nasional Infografis
Malaysia telah mencabut sebagian larangan ekspor ayam ke Singapura
Hukum
Jaksa meminta Polri segera melimpahkan tersangka dan barang bukti.
News Analysis
“Ayo mari kita semua ber-booster ria. Ini demi kita semua,” kata Luhut.
Korporasi
Dengan skema kerja sama kebijakan transisi energi suatu negara ditopang negara maju
3 PHOTO
9 PHOTO
15 PHOTO
3 PHOTO
4 PHOTO
Kamis , 23 Jun 2022, 06:45 WIB
Kamis , 23 Jun 2022, 13:49 WIB
Phone: 021 780 3747
Fax: 021 799 7903
Email:
newsroom@rol.republika.co.id (Redaksi)
sekretariat@republika.co.id (Redaksi)
marketing@republika.co.id (Marketing)
Copyright © 2018 republika.co.id, All right reserved