KAREBA-TORAJA.COM, RANTEPAO — Wabah Demam Berdarah Dengue (DBD) di Rantepao makin gawat. Kamis, 16 Juni 2022 kemarin, satu anak SD di Kelurahan Rante Pasele, meninggal dunia karena DBD. Sedangkan total jumlah kasus DBD sejak Januari-pertengahan Juni 2022 di wilayah kerja Puskesmas Rantepao mencapai 56 kasus.
Kepala Puskesmas Rantepao, dr Yuspin, yang dikonfirmasi kareba-toraja.com, Jumat, 17 Juni 2022, mengakui peningkatan kasus Demam Berdarah yang kian mengkhawatirkan di wilayah kerjanya.
Apalagi, sebaran kasus mulai merata di tujuh kelurahan yang ada di wilayah kerja Puskesmas Rantepao. “Paling banyak kasus ditemukan di Rante Pasele, Pasele, dan Malangngo’, tapi di semua keluarahan ditemukan juga kasus DBD,” tutur dr Yuspin.
Dokter Yuspin menguraikan, jumlah kasus DBD yang ditemukan di wilayah kerja Puskesmas Rantepao, yakni Januari 16 kasus, Februari 9 kasus, Maret 10 kasus, April 6 kasus, Mei 14 kasus, dan Juni 18 kasus.
Dengan semakin meningkatkannya kasus, apalagi ada yang meninggal dunia, dr Yuspin khawatir, DBD ini bisa menjadi kejadian luar biasa (KLB). “Kalau jumlah kasusnya meningkat terus, bisa KLB,” katanya.
Untuk itu, pihak Puskesmas Rantepao sudah melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Toraja Utara untuk melakukan langkah-langkah prefentif untuk mencegah peningkatan kasus DBD.
Langkah pertama adalah Penyelidikan Epidemologi untuk menilai kondisi lingkungan dimana pasien berada. Juga untuk mengenal sifat-sifat penyebab, sumber dan cara penularan serta faktor yang dapat mempengaruhi timbulnya wabah.
Langkah berikutnya adalah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan untuk melakukan fogging di beberapa lokasi yang dianggap menjadi sarang nyamuk penyebab DBD.
“Kalau fogging sudah dan sementara kita lakukan. Besok dan seterusnya akan kita minta ke Dinas Kesehatan untuk melakukan fogging di area mana sesuai dengan PE (penyelidikan epidomologi) yang kita lakukan,” urai dr Yuspin.
Selain itu, pihak Puskesmas juga bekerja sama dengan gereja-gereja untuk menghimbau masyarakat menjaga kebersihan lingkungan serta menggalakan “Gerakan 3M Plus”.
“Kami akan bersurat secara resmi ke gereja-gereja dan lembaga keagamaan lainnya untuk menghimbau masyarakat menjaga kebersihan dan menggalakan gerakan 3M Plus,” kata dr Yuspin.
Di akhir wawancara, dokter Yuspin juga menitip pesan agar masyarakat rajin bersih-bersih di sekitar lingkungan tempat tinggalnya. Jika ada benda yang berpotensi menjadi tempat bertelurnya nyamuk, segera dibersihkan atau dibuang.
“Ya, saya mohon, kiranya masyarakat meningkatkan kesadarannya untuk menjaga kebersihan lingkungannya,” pintanya.
Sedangkan plus-nya yaitu :
Wabah DBD biasanya akan mulai meningkat saat pertengahan musim hujan, hal ini disebabkan oleh semakin bertambahnya tempat-tempat perkembangbiakan nyamuk karena meningkatnya curah hujan. Tidak heran jika hampir setiap tahunnya, wabah DBD digolongkan dalam kejadian luar biasa (KLB).
Masyarakat diharapkan cukup berperan dalam hal ini. Oleh karena itu, langkah pencegahan yang dapat dilakukan adalah upaya pencegahan DBD dengan 3M Plus. (*)
Penulis: Desianti
Editor: Arthur
No More Posts Available.
No more pages to load.