BOYOLALI – Pemkab masih menunggu dropping vaksin penyakit mulut dan kuku (PMK) dari Kementerian Pertanian (Kementan). Informasinya, sebanyak 3 juta dosis vaksin disebar ke sejumlah daerah. Prioritasnya Jatim dan Aceh yang penyebarannya cukup parah. Untuk jatah vaksin di Boyolali, belum bisa dipastikan.
“Vaksin nasional tahap I segera turun. Diprioritaskan di daerah wabah secara nasional. Yang lainnya tetap mendapatkan. Boyolali meminta semaksimal mungkin pastinya. Tetapi turunnya berapa, kami nggak tahu,” jelas Kepala Dinas Perternakan dan Perikanan (Disnakan) Boyolali Lusia Dyah Suciati, Jumat (17/6).
Disnakan Boyolali telah mengirimkan data sistem informasi kesehatan hewan nasional (iSIKHNAS). Di antaranya berisi data populasi sapi perah di Boyolali yang mencapai 94 ribu ekor, dan sapi potong lebih dari 107 ribu ekor. Lusia berharap, besarnya populasi sapi tersebut menjadi pertimbangan pemberian vaksin yang lebih banyak.
“Kami mengusahakan (mendapatkan vaksin) sebanyak-banyaknya. Lalu arahan dari sana (Kementan), vaksin ini diprioritaskan pada daerah yang berbatasan dengan wilayah terdampak,” katanya.
Lusi mencontohkan, daerah terdampak di Mojosongo, Musuk, dan Cepogo, maka prioritas vaksin diberikan pada ternak di daerah Boyolali Kota, Teras, Ampel dan sekitarnya. Tujuannya, sapi sehat di daerah berdekatan lebih aman. Mengingat risiko terpapar lebih tinggi dibandingkan daerah yang jauh.
Vaksin PMK, lanjut Lusi diberikan kepada sapi sehat. Untuk yang telah terpapar, harus menunggu sembuh terlebih dahulu, baru divaksin. “Kalau sapi masih gejala, kami tidak berani. Sapi perah memang lebih rentan dan pengobatannya agak lama dibanding sapi potong,” jelasnya.
Berkaca dari kondisi tersebut, sapi perah dewasa menjadi prioritas vaksin ternak. Baru dilanjutkan sapi perah remaja dan anakan atau pedet dan sapi potong yang notabene lebih kebal.
Sementara itu, hingga 15 Juni, disnakan melakukan tracing 7.927 ternak. Rinciannya, ternak suspek sebanyak 2.574 ekor dan kasus positif PMK sebanyak 32 ekor.
Lusi menjelaskan, sampai saat ini belum ada penambahan data ternak yang diambil sampelnya untuk pemeriksaan laboratorium. Data terbaru menyebut 507 ekor sapi sembuh, dan yang mati 22 ekor. Daerah zona merah PMK yakni Mojosongo, Ampel, dan Andong. Untuk zona hijau Kemusu dan Juwangi. “Sawit itu juga masih hijau. Tapi sudah ada laporan sembilan ternak (suspek PMK). Data itu dinamis sekali, hari ini begini, siang sudah ada laporan,” pungkas Lusi. (rgl/wa/dam)
BOYOLALI – Pemkab masih menunggu dropping vaksin penyakit mulut dan kuku (PMK) dari Kementerian Pertanian (Kementan). Informasinya, sebanyak 3 juta dosis vaksin disebar ke sejumlah daerah. Prioritasnya Jatim dan Aceh yang penyebarannya cukup parah. Untuk jatah vaksin di Boyolali, belum bisa dipastikan.
“Vaksin nasional tahap I segera turun. Diprioritaskan di daerah wabah secara nasional. Yang lainnya tetap mendapatkan. Boyolali meminta semaksimal mungkin pastinya. Tetapi turunnya berapa, kami nggak tahu,” jelas Kepala Dinas Perternakan dan Perikanan (Disnakan) Boyolali Lusia Dyah Suciati, Jumat (17/6).
Disnakan Boyolali telah mengirimkan data sistem informasi kesehatan hewan nasional (iSIKHNAS). Di antaranya berisi data populasi sapi perah di Boyolali yang mencapai 94 ribu ekor, dan sapi potong lebih dari 107 ribu ekor. Lusia berharap, besarnya populasi sapi tersebut menjadi pertimbangan pemberian vaksin yang lebih banyak.
“Kami mengusahakan (mendapatkan vaksin) sebanyak-banyaknya. Lalu arahan dari sana (Kementan), vaksin ini diprioritaskan pada daerah yang berbatasan dengan wilayah terdampak,” katanya.
Lusi mencontohkan, daerah terdampak di Mojosongo, Musuk, dan Cepogo, maka prioritas vaksin diberikan pada ternak di daerah Boyolali Kota, Teras, Ampel dan sekitarnya. Tujuannya, sapi sehat di daerah berdekatan lebih aman. Mengingat risiko terpapar lebih tinggi dibandingkan daerah yang jauh.
Vaksin PMK, lanjut Lusi diberikan kepada sapi sehat. Untuk yang telah terpapar, harus menunggu sembuh terlebih dahulu, baru divaksin. “Kalau sapi masih gejala, kami tidak berani. Sapi perah memang lebih rentan dan pengobatannya agak lama dibanding sapi potong,” jelasnya.
Berkaca dari kondisi tersebut, sapi perah dewasa menjadi prioritas vaksin ternak. Baru dilanjutkan sapi perah remaja dan anakan atau pedet dan sapi potong yang notabene lebih kebal.
Sementara itu, hingga 15 Juni, disnakan melakukan tracing 7.927 ternak. Rinciannya, ternak suspek sebanyak 2.574 ekor dan kasus positif PMK sebanyak 32 ekor.
Lusi menjelaskan, sampai saat ini belum ada penambahan data ternak yang diambil sampelnya untuk pemeriksaan laboratorium. Data terbaru menyebut 507 ekor sapi sembuh, dan yang mati 22 ekor. Daerah zona merah PMK yakni Mojosongo, Ampel, dan Andong. Untuk zona hijau Kemusu dan Juwangi. “Sawit itu juga masih hijau. Tapi sudah ada laporan sembilan ternak (suspek PMK). Data itu dinamis sekali, hari ini begini, siang sudah ada laporan,” pungkas Lusi. (rgl/wa/dam)
Penerbit : PT Surakarta Intermedia Pers
Alamat : Jalan Kebangkitan Nasional Nomor 37 Surakarta

source