TIMES HAJI, SAMPANG – Pergi melaksanakan ibadah haji merupakan impian semua umat Islam. Seorang tukang becak asal Sampang, Holili  Addrae Sae (60 tahun) harus bekerja keras untuk dapat menyempurnakan rukun Islam kelima ini. Usaha kerasnya berhasil mengantarkannya menjadi bagian Jemaah Calon Haji (JCH Indonesia) yang berangkat ke tanah suci.
Warga Jalan Permata, Kelurahan Banyuanyar, Kecamatan Sampang, Kabupaten Sampang ini mengaku bahwa  bisa naik haji juga menjadi impian istrinya yang bernama Busideh. Holili bersama dengan istrinya, mendaftarkan diri pada tahun 2011 lalu. Namun, dalam masa tunggu haji, sang istri terlebih dahulu tutup usia dan meninggalkannya.
Holili mengatakan selain karena memang mendapatkan panggilan dari Allah SWT, keberhasilannya mewujudkan mimpi untuk menunaikan rukun Islam yang ke 5 ke tanah suci itu tidak terlepas dari peran almarhumah istrinya.
”Kami hanya bekerja keras memeras keringat mengayuh becak setiap hari, tapi almarhum istri saya yang begitu telaten menyisihkan sedikit demi sedikit uang sisa dari kebutuhan hidup sehari-hari,” kata Holili, yang dikutip dari Kemenag Sampang, Selasa (14/06/2022).
Tampak sekali guratan kesedihan yang mendalam di wajah Holili saat  mengingat perjuangan almarhumah istrinya. Sesekali Holili menyeka airmata yang jatuh dari kelopak matanya sembari terus menceritakan kisah almarhumah yang mengajak, menguatkan, dan meyakinkannya untuk mendaftar haji meski dengan kondisi ekonomi yang ala kadarnya.
“Penghasilan mecak perhari hanya Rp30-50 ribu, itupun tidak menentu. Selain itu, saya juga bekerja sebagai kuli ikan dengan penghasilan yang tak seberapa. Istri saya rajin menabung mengumpulkan, dan dibelikan beberapa gram emas,” jelasnya
Tiba di satu waktu, Holili dan istrinya mendapatkan rejeki arisan dan memutuskan untuk menjual semua barang-barang yang selama ini telah dikumpulkan untuk biaya pendaftaran haji. Mulanya sempat ragu, namun sang istri kembali menguatkan dan meyakinkan.
“Saya dapat arisan dan ayo emas ini jual. Ayo daftar haji, tidak apa dengan niat, insyaAllah siapa tahu Allah mengasihani dan Allah cukupkan,” papar Holili mengenang ucapan mendiang istrinya.
Bermodal keyakinan, kedua pasangan suami istri itu mendaftar haji pada tahun 2011. Namun Allah berkendak lain, istrinya meninggal dunia pada tahun 2019 karena sakit, sebelum ia dihubungi pelunasan haji pada tahun 2020.
“Istri saya meninggal beberapa bulan sebelum penatapan, tahun 2020 dikonfirmasi berangkat, tapi karena pandemi jadi ditunda, dan alhamdulillah bisa berangkat tahun ini. Meski istri saya sudah meninggal, tapi niat saya tetap haji bersama istri,” ungkapnya.
Sepeninggal istrinya, Holili sempat menawarkan kedua anaknya untuk mengganti porsi haji sang istri, namun keduanya menolak dan Holili memilih mengambil tabungan haji almarhumah untuk dipergunakan sebagai biaya menghajikan mendiang istrinya di tanah suci.
“Uang tabungannya sampai saat ini masih utuh, saya titipkan agar tidak saya pergunakan. Uang itu untuk haji badal istri saya karena di tanah suci harus bayar orang untuk menghajikan. Mohon doa semoga saya dan istri dijadikan haji mabrur,” tutupnya.
Namun Di tengah kebahagiaan yang dirasakan, Holili  mengaku sedih dan bingung. Karena tidak memiliki sepersen pun uang untuk bekal ke Tanah Suci yang rencananya berangkat 16 Juni 2022 ini. Bahkan ia tidak bisa untuk turut mendaftar ke Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) yang ada di Sampang.
“Saya sudah tidak punya tabungan lagi mas, apalagi buat bekal untuk ikut jadi rombongan KBIH saja tidak mampu membayar “ terang Holili.
Selama proses persiapan pemberangkatan, Holili mengaku selalu menggunakan becaknya setiap kali mengikuti pelatihan, manasik haji dan mengurus persiapan lainnya. Karena becak itu satu-satunya kendaraan yang dimiliki hingga mampu mengantarkannya menjadi JCH Indonesia. (*)

source