Jabarekspres.com – Semenjak 2019, polusi udara (PM) tidak mengalami perubahan, yakni rata-rata tahunan global (PM 2.5). Laporan dari Energy Policy Institute di Unversitas Chicago (EPIC) menyebut bahwa polusi udara sekarang membahayakan kesehatan manusia, dikutip dari EPIC, Senin (14/6/2022).
Laporan tersebut juga menyebut bahwa sekitar 97,3 persen dari populasi global berada dalam dalam zona tidak aman. Pasalnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah merevisi pedoman terkait paparan polusi partikulat yang dianggap aman, yakni dari 10 g/m³ menjadi 5 g/m³.
Laporan dari EPIC itu juga memberitahu informasi yang penting bagi kita yang hidup di Kawasan Asia Tenggara.
Laporan tersebut menyatakan bahwa sekitar 99,9 persen, atau hampir semua orang yang hidup di Asia Tenggara, berada dalam tingkat polusi yang tidak aman bagi kesehatan. Bahkan, di beberapa wilayah, polusi udara meningkat sebanyak 25 persen.
Lalu, wilayah mana saja yang paling tercemar oleh polusi udara di Asia Tenggara? Menurut laporan tersebut, jawabannya adalah Jakarta (Indonesia), Mandalay (Myanmar), dan Hanoi (Vietnam).
Laporan menambahkan bahwa orang-orang yang tinggal di wilayah-wilayah tersebut kehilangan harapan hidup rata-rata 3 hingga 4 tahun.
Sebelumnya, EPIC menyatakan bahwa kendati kegiatan-kegiatan ekonomi melambat selama pandemi Covid-19 kemarin, namun hal tersebut tidak mengubah kualitas udara.
Bahkan, sebuah riset terbaru menunjukkan hasil yang mendukung laporan EPIC di atas. Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) periode Juni-Juli 2021 tidak berkontribusi bagi perbaikan kualitas udara di Jabodetabek, menurut riset dari Katadata Insight Center (KIC) dan Komunitas Bicara Udara, dikutip dari Databoks Katadata, Rabu (2/3/2022).
Pada masa PPKM tersebut kandungan partikel PM2.5 secara umum di Jabodetabek justru meningkat 12%.
Apa itu polusi udara (PM)?
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.
Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.