TANJUNG SELOR, Koran Kaltara – Stunting atau masalah kurang gizi kronis yang ditandai dengan tubuh pendek merupakan persoalan yang disikapi serius pemerintah pusat.
Secara teknis, pemerintah pusat terus menargetkan penurunan angka stunting hingga 14 persen di tahun 2024 nanti.
Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Republik Indonesia, dr. Hasto Wardoyo menyampaikan sejumlah upaya mencegah stunting sejak dini yang dapat dilakukan oleh masyarakat.
Hal itu dijelaskan dalam sambutannya di hadapan peserta Kick Off Pendampingan Keluarga dan Bulan Pelayanan KB di Kaltara, Kamis (2/6/2022).
Hasto mengatakan, upaya mencegah stunting pada anak dapat dilakukan sejak pasangan belum menikah. Dimana itu dilakukan untuk menjamin kesehatan bayi hingga dilahirkan.
Ia mencontohkan, calon mempelai perempuan setidaknya harus memiliki indeks masa tumbuh yang ideal, indeks lingkar lengan atas minimal 23,5 cm dan tidak anemia saat menghendaki proses kehamilan.
“Ketika anemia, maka plasenta akan menipis,” ungkap Hasto.
Sementara itu, calon mempelai laki-laki harus mempersiapkan diri selama 75 hari untuk menghasilkan benih yang berkualitas.
Salah satunya dengan menjaga kondisi fisik, konsumsi makanan bergizi, tidak merokok dan lainnya.
“Setelah menjadi janin, usia satu sampai dua bulan menjadi penentu. Ini penting didampingi tim pendamping, untuk mengantisipasi anak sumbing, hidrosefalus atau kepala membesar dan penyakit lainnya,” kata Hasto.
Setiap ibu juga diharap memberikan Air Susu Ibu (ASI) jika masih memungkinkan. Utamanya dalam enam bulan pertama bayi dilahirkan.
“Kalau tidak terpaksa, jangan berikan susu botolan,” pesan Hasto.
Setiap perempuan juga diminta memahami usia aman kehamilan di umur 20 tahun. Ini penting untuk menjaga kondisi fisik mereka dalam jangka waktu panjang.
“Jangan hamil di bawah 20 tahun, apalagi 15 atau 17 tahun. Tulang mereka akan keropos, bisa bungkuk nantinya. Jangan juga hamil di usia terlalu tua, batas maksimal 35 tahun,” paparnya.
Masyarakat juga diharap paham jika salah satu penyebab stunting yang banyak ditemui adalah jarak kelahiran yang sangat dekat atau ketika seorang ibu kembali hamil di saat anak pertamanya belum cukup mandiri.
“Perlu dipahami jika jarak anak yang dekat bisa menghasilkan stunting. Paling tidak jarak antar kehamilan yang aman itu minimal 3 tahun,” pungkasnya. (*)
BACA JUGA:
Reporter: Agung Riyanto
Editor: Didik







[…] Cegah Stunting Sejak Dini, Berikut Penjelasan Kepala BKKBN RI […]
[…] Cegah Stunting Sejak Dini, Berikut Penjelasan Kepala BKKBN RI […]
Korankaltara
Koran Kaltara adalah media terbesar di Kalimantan Utara yang berkantor pusat di Tanjung Selor mengusung tagline “Cerdas untuk Pembaruan” senantiasa menghadirkan berita-berita yang informatif dan inspiratif.
Temukan Lebih

source