Anda belum login
Anda belum login
Sign InorSign Up
Email
Password
Nama
Email
Password
Ulangi Password
Email
Password
Nama
Email
Password
Ulangi Password
Pencarian
INVESTOR.id
Ilustrasi Hepatitis. (Foto: B1/Muhammad Reza)
JAKARTA, investor.id – Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Mohammad Syahril mengatakan berdasarkan data per  Sabtu  (11/6/2022) pukul 16:00 WIB terdapat 26 kasus kumulatif dugaan hepatitis akut  yang tersebar di 20 provinsi.
Dari 26 kasus tersebut terdiri 9 probabel dan  17  pending. Adapun status pasien tersebut, 6 pasien meninggal dunia  dengan rincian  3 probable dan 3 pending classification. Sementara 12 masih dirawat  dengan status 3 probable dan 9 pending classification. Selain itu, ada 2 pulang paksa dengan status pending classification.
“Pasien sembuh ada 6 sembuh/dipulangkan  dengan status 3 probable dan 3 pending classification,” kata Syahril saat dihubungi Beritasatu.com, Sabtu  (10/6/2022).
Syahril juga menuturkan 26 kasus dugaan hepatitis akut ini dari  61 kasus yang dilaporkan dari 20 provinsi, namun 35  pasien discarded dan hanya  26 masuk dugaan hepatitis dengan status 9 probable dan 17 pending.
Adapun discarded  adalah hepatitis  akut virus A-E  terdeteksi  atau etiologi lain terdeteksi. Terkait hal itu, Kemenkes juga mengutarakan langkah penanganan hepatitis akut yang biasa terjadi pada anak di mana orang tua diminta mewaspadai gejala hepatitis akut misterius pada anak.
"Orang tua harus mewaspadai gejala hepatitis akut pada anak yakni adanya diare, mual, muntah, sakit perut dan dapat disertai demam ringan. Selain itu warna mata dan kulit anak dapat menguning dan terjadi gangguan pembekuan darah yang bisa menyebabkan kejang dan kesadaran menurun," lanjutnya.
Apabila ada gejala seperti itu, orang tua diminta untuk langsung membawa dan merawat anaknya ke fasilitas kesehatan seperti Puskesmas atau rumah sakit terdekat agar segera mendapat pertolongan lanjutan.
"Bila perlu kalau memang sudah dalam taraf penurunan kesadaran maka segera dibawa ke ICU anak agar bisa segera ditangani agar tidak berlanjut kemudian yang bisa berakibat fatal yakni meninggal dunia," pungkasnya.
Editor : Frans (ftagawai@gmail.com)
Sumber : BeritaSatu.com
Berita Terkait
Kemenkes Tegaskan Belum Ada Kebijakan Pemberian Booster Kedua
Bertambah, Kasus Dugaan Hepatitis Akut Jadi 24 Orang
Waspada Cacar Monyet, Hewan Bisa Tularkan Virus ke Manusia
Kemendikbudristek Punya Strategi Antisipasi Penularan Hepatitis Akut di Sekolah
Terpopuler
01
Lo Kheng Hong: Jual Saham Wonderful Company Terus Masuk ke Bank Digital, Itu Tragedi!
Jumat, 10 Juni 2022 | 15:45 WIB
02
Penjualan Sesuai Ekspektasi, Begini Pandangan Analis terhadap Saham Bukit Asam (PTBA)
Jumat, 10 Juni 2022 | 09:25 WIB
03
Ada Apa dengan Saham Telkom (TLKM)?
Jumat, 10 Juni 2022 | 07:25 WIB
04
Mengapa IHSG dan Bursa Asia Kompak Memerah?
Jumat, 10 Juni 2022 | 13:00 WIB
05
Mantap, Saham-saham Ini Harganya Melambung di Atas 14%
Jumat, 10 Juni 2022 | 11:50 WIB
Terkini
Taiwan Excellence Perkenalkan Produk Unggulan Taiwan
Minggu, 12 Juni 2022 | 01:27 WIB
BPIP Dukung Polisi Tindak Tegas Kelompok Khilafatul Muslimin
Sabtu, 11 Juni 2022 | 23:49 WIB
DPR Janji Kawal Efektivitas dan Efisiensi Anggaran Pemilu Rp 76,6 Triliun
Sabtu, 11 Juni 2022 | 23:27 WIB
Epidemiolog Ungkap Pemicu Kenaikan Kasus Covid-19 di Indonesia
Sabtu, 11 Juni 2022 | 23:07 WIB
Relawan Muda Tim 7: Kerja Keras Jokowi Diapresiasi Dunia
Sabtu, 11 Juni 2022 | 22:53 WIB
Copyright ©2022 Investor Daily. All Rights Reserved

source