Kasus Penganiayaan HolyWings
Radar Jogja
TAK PROVOKASI : Karmel Nikcolas angkat bicara terkait kasus penganiayaan Bryan Yoga Kusuma di HolyWings, Sabtu dini hari (4/6). Pria berusia 26 tahun ini menegaskan dia tak melakukan provokasi. (DWI AGUS/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA – Karmel Nikcolas angkat bicara terkait kasus penganiayaan Bryan Yoga Kusuma di HolyWings, Sabtu dini hari (4/6). Pria berusia 26 tahun ini menegaskan dia tak melakukan provokasi. Justru sebaliknya, mendapatkan tindakan tidak menyenangkan dari Bryan Yoga Kusuma.
Berawal saat Karmel menyapa temannya yang bernama Albert. Sosok inipula yang berada di rombongan Bryan Yoga Kusuma. Saat itu respon tidak mengenakan sudah muncul dari Bryan.
“Dari fakta yang saya alami itu disini saya korban. Awalnya dipukul di dalam, keluar dan di luar saya dikeroyok. Di dalam saya lari ke dalam, dalam itu saya melihat ada (LV), saya tahu karena saya pernah lihat salah satu orang ini anggota Polres,” jelasnya ditemui di Kota Jogja, Jumat sore (10/6).
Disinggung tentang hubungan pertemanan, Karmel mengaku mengenal Bryan melalui temannya. Hanya saja perkenalan belum terlalu lama. Keduanya baru berkenalan Maret 2022.
Karmel justru lebih mengenal sosok Albert. Dia juga mengaku sempat mendatangi sofa kelompok Bryan Yoga Kusuma sebelum kericuhan. Tujuannya hanya untuk menyapa Albert. Setelahnya Bryan mendorong tubuhnya.
“Saya masih balik ke table saya habis itu saya biarin saya terima telepon keluar, terima telepon pacar saya. Habis terima telepon saya masuk, saya ditabrak bahu karena melewati sofa mereka sama Yoga,” katanya.
Keduanya sempat mengacungkan jari tengah. Karmel menanyakan tujuan Bryan terus mencari celah keributan. Hingga akhirnya keduanya baku hantam di dalam yang berlanjut di halaman parkir HolyWings.
“Dia langsung udah marah ngamuk saya, dipiting, dibanting dipukul, saya lari keluar. Di luar, saya belum ada ngomong sudah dikeroyok sama teman-temannya,” ujarnya.
Dia mengaku mendatangi meja LV untuk konsultasi. Untuk melakukan pelaporan atas penganiayaan yang dialaminya. Hingga akhirnya diarahkan untuk visum dan menguat laporan polisi setelahnya.
Saat itu keributan masih berlangsung di halaman parkir HolyWings. Karmel mengaku melihat Bryan ribut dengan sejumlah orang. Terdengar pula sejumlah teriakan bernada tantangan dari Bryan.
“Nah saya tidak ada cerita untuk memprovokasi atau seperti apa, tidak hanya buat laporan di situ dan diarahin besok ke kantor harus buat rumah sakit dan lain-lain. Posisi saya ke dalam itu sudah compang-camping baju robek. Saya punya semua buktinya,” klaimnya.
Karmel juga sempat melihat LV dan AR keluar menuju halaman parkir HolyWings. Tak berselang justru terjadi kericuhan. Kedua sosok ini adalah oknum perwira polisi Satreskrim Polres Sleman.
Karmel menceritakan LV dan AR awalnya melerai perselisihan. Namun rombongan Bryan justru memukul AR. LV yang mencoba untuk melerai justru ditarik dan menyebabkan bajunya robek.
“Pak Leo ini saya tidak kenal sama sekali, tidak teman saya yang saya cuman tahu kalau itu anggota (polisi) keluar bersama temannya, saya juga tidak dikenal yang disebut-sebut namanya Arif saya nggak kenal sama sekali. Keluar untuk melerai Yoga dengan satpam ribut,” ujarnya.
Karmel menuturkan posisinya saat itu berada di teras. Sementara lokasi kericuhan berada di halaman parkir. Selama kericuhan berlangsung, Karmel mengaku tak mendekati kerumunan.
“Saat dilerai Yoga dan Albert ini malah yang mukul Pak Arif duluan. Jadi Pak Arif ini dihajar di situ, mas Leo juga melerai malah ditarik bajunya sampai robek dan abis itu temen-temen itu juga mukulin mereka jadi ribut di situ. Saya tidak tahu menahu lagi setelahnya, sampai akhirnya saya dibawa ikut ke Polres Sleman,” katanya.
Saat masuk ruangan Satreskrim Polres Sleman, Karmel mengaku dengar teriakan dari arah luar. Diiringi Bryan yang lari menuju arah luar Mapolres. Hingga akhirnya tertabrak kendaraan bermotor roda empat yang melaju dari arah Magelang menuju Jogjakarta.
Karmel juga ingin meluruskan pernyataan kuasa hukum Bryan Yoga Kusuma, Duke Arie Widadgo. Berupa pernyataan luka Bryan akibat penganiayaan. Dia memastikan luka di tubuh akibat kecelakaan di depan Mapolres Sleman.
“Ini perlu diluruskan lagi, ada yang bilang kalau di sana itu menyebutkan dia dikeroyok dan diseret sampai luka bakar gitu ya. Saya melihat secara langsung beliau Yoga sendiri itu kabur dan tertabrak terseret (mobil) sebenarnya,” ujarnya.
Usai kejadian, Carmel langsung melakukan visum. Hasilnya adalah temuan luka di sejumlah tubuh. Mulai dari bengkak kepala bagian kirim. Adapula luka lebam pada bagian leher, pipi dan badan.
“Saya yang buat laporan polisi pertama di Polres Sleman. Saya bukti visum terus baju saya robek, celana juga,” katanya.
Dihubungi terpisah, kuasa hukum Bryan Yoga Kusuma, Duke Arie Widadgo tak mempermasalahkan pernyataan Karmel. Dia mengaku memiliki sejumlah bukti kuat. Termasuk provokasi yang dilakukan oleh Karmel.
“Buktinya dia yang mendatangi meja Bryan bukan Bryan yang mendatangi meja KN (Karmel). Dari ini saja jelas siapa yang memulai duluan. Dan memang ternyata keterangan dari saksi-saksi modusnya seperti itu,” ujar Arie.
Sementara untuk kondisi kesehatan Bryan, Arie memastikan kliennya sudah membaik. Untuk laporan polisi telah diambil alih oleh Ditreskrimum Polda DIJ. Sehingga pemeriksaan langsung oleh penyidik Polda DIJ.
“Mas Bryan sudah diperiksa. Sudah diperiksa penyidik Polda DIJ,” katanya. (Dwi)