BOGOR – Seluruh daerah di Indonesia terus berupaya menekan kasus stunting atau kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis. Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor merupakan salah satu daerah yang konsen dan fokus dalam penanganan stunting. Sejumlah terobosan program dan inovasi dilakukan oleh Kota Bogor yang dipimpin Walikota Bima Arya Sugiarto ini.

Program pencegahan stunting menjadi program prioritas pembangunan kesehatan di Indonesia, termasuk di Kota Bogor.  Pemkot Bogor melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor memiliki inovasi untuk menghilangkan stunting. Terlebih Visi Kota Bogor yaitu Kota Ramah Keluarga dan Misi Kota Bogor yaitu Kota Sehat, Cerdas, Sejahtera selaras dengan upaya menghilangkan stunting.
Taleus Bogor (Tanggap Leungitken Stunting di Kota Bogor) merupakan inovasi dalam percepatan penurunan stunting di Kota Bogor karena dilakukan dengan menggerakkan masyarakat, kerja sama dengan lintas program serta lintas sektor serta tanggap dengan mengintervensi semua sasaran. Strateginya adalah dengan konvergensi multisektor melalui intervensi spesifik dan sensitive secara berjenjang, dari tingkat Kota, Kecamatan, Kelurahan sampai RW.
Pendekatan Continuum Of Care: Intervensi pada semua kelompok umur, mulai dari remaja, calon pengantin, ibu hamil, bayi, balita, anak sekolah. Kegiatan dilaksanakan melalui 3 pendekatan yaitu melalui peningkatan kompetensi dan kualitas layanan sesuai standar untuk menurunkan rasio kematian ibu, melalui perbaikan status gizi masyarakat untuk menurunkan prevalensi stunting dan melalui promosi Kesehatan serta pemberdayaan masyarakat dengan upaya penyebarluasan informasi kesehatan.

Bunda Peduli Stunting juga berperan dalam upaya percepatan penurunan stunting. Bunda Peduli Stunting tingkat Kota yaitu Ibu Wakil Walikota maupun Bunda Peduli Stunting tingkat Kecamatan yaitu Ketua TP-PKK Kecamatan turut, mensosialisasikan tentang stunting dan pencegahannya khususnya meningkatkan kesadaran masyarakat dalam perbaikan pola asuh, memantau layanan intervensi terhadap sasaran rumah tangga 1000 HPK, memfasilitasi masyarakat untuk mengikuti kegiatan konseling gizi serta memfasilitasi masyarakat untuk berpartisipasi secara aktif dalam pencegahan dan penurunan stunting.

Walikota Bogor Bima Arya menyatakan Kota Bogor masih lebih baik dibandingkan wilayah lain terkait angka kasus stunting. Namun demikian masih ada kasus stunting dan angkanya cukup tinggi, dan perlu perhatian semua pihak dalam mengatasinya. Berdasarkan penelitian yang membuat angka stunting itu naik kata Bima, diantaranya karena pola pemberian ASI Eksklusif yang tidak maksimal.

Pendekatan Kota Bogor dalam upaya menangani stunting dilakukan secara keseluruhan dalam arti bukan ketika memasuki proses kehamilan, namun dimulai ketika akan menikah dengan cara memberikan edukasi dan pembekalan. Selain pola makan faktor lain stunting pada anak, disebabkan kurangnya asupan gizi bagi anak-anak dan yang lainnya. Bersama pihak lain, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor terus berupaya dalam mendorong semua warga dalam memberikan pemahaman terkait kesehatan, khususnya tentang stunting dan bahayanya.

Hal ini ditujukan agar edukasi dan pemahaman yang disampaikan berjalan dengan baik dan maksimal, sehingga para orang tua di Kota Bogor bisa melahirkan dan mempersiapkan anak-anaknya dengan baik hingga mampu menjemput masa depannya kelak. “Jadi siklusnya itu panjang, dimulai bukan ketika kehamilan tetapi sejak akan menikah kemudian menjalani prosesnya hingga hamil kemudian melahirkan. Pemahaman yang diberikan bagi yang akan menikah harus dikasih tahu bahwa harus banyak mengonsumsi asupan yang bergizi,” ucap Bima.

“Ditambah vitamin agar ketika hamil cukup asupannya dan juga kualitas ASI baik agar paham dan anak-anaknya tumbuh sehat dan bisa menjalani pendidikan sejak dini hingga dewasa kelak. Anak-anak harus sehat, para ibu hamil harus diperhatikan, pendidikannya dan semuanya harus diperhatikan,” tambahnya.

Sementara, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor, dr. Sri Nowo Retno, MARS, mengatakan, stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama dalam 1000 hari pertama kehidupan (HPK), yaitu 270 hari selama dalam kandungan dan 730 hari dari lahir sampai anak umur 2 tahun.

Dampak Kekurangan gizi yang kronis pada masa 1000 HPK menyebabkan anak gagal tumbuh (berat lahir rendah, stunting, kecil, kurus), hambatan perkembangan kognitif dan motorik dan gangguan metabolik pada saat dewasa yang mengakibatkan risiko penyakit tidak menular (diabetes, obesitas, stroke, penyakit jantung). Stunting berdampak pada kualitas sumber daya manusia, yang pada akhirnya akan menurunkan produktivitas SDM sehingga bonus demografi tidak termanfaatkan dengan baik.
‘’Penanganan stunting ini butuh dukungan, kerjasama dan koordinasi lintas sektoral, melibatkan berbagai pemangku kepentingan mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta stake holder lainnya seperti dunia usaha, akademisi, media, dan masyarakat umum lainnya,’’ jelasnya.

Berdasarkan hasil Bulan penimbangan Balita di Kota Bogor pada Tahun 2018 didapatkan 4,8% balita yang stunting. Pada tahun 2019 persentasenya turun menjadi 4,52%, namun mengalami kenaikan di tahun 2020 menjadi 10,66% dan menurun kembali di tahun 2021 menjadi 5,33%. Tahun 2021 di Kota Bogor masih ditemukan faktor resiko kesehatan yang meningkatkan terjadinya stunting seperti pernikahan remaja, anak remaja dengan Anemia, Ibu hamil dengan anemia, Ibu hamil yang KEK (Kurang Energi Kronik), Ibu hamil dengan tinggi badan <150 cm, bayi yang BBLR (Berat Bayi Lahir Rendah) dan prematur, diare pada balita, dan Pneumonia pada balita.

Faktor resiko lingkungan juga masih ada yaitu masih kurangnya sanitasi dasar. Saat ini di Kota Bogor belum ada Kelurahan yang ODF (Open Defecation Free) atau Bebas BAB sembarangan. Kompleksnya permasalahan stunting dan perlu banyaknya stakeholder yang terkait dalam intervensi spesifik dan sensitif, memerlukan penanganan yang dilakukan secara terkoordinir dan terpadu kepada sasaran prioritas, tidak hanya oleh sektor kesehatan namun juga perlu intervensi dari sektor lainnya.

Penyelenggaraan intervensi spesifik dan sensitif secara konvergen dilakukan dengan mengintegrasikan dan menyelaraskan berbagai sumber daya untuk mencapai tujuan pencegahan stunting. Dalam pelaksanaannya, upaya konvergensi percepatan pencegahan stunting dilakukan mulai dari tahap perencanaan dan penganggaran, pelaksanaan, hingga pemantauan dan evaluasi. Ada 8 tahapan aksi konvergensi percepatan pencegahan stunting.

Saat menghadiri acara di Provinsi Jawa Barat beberapa waktu lalu, Pemerintah Kota Bogor, melalui Wakil Walikota Dedie Rachim, menyampaikan persentase anak yang mengalami gangguan pertumbuhan berupa kekerdilan di daerah itu mengalami penurunan dalam kurun waktu empat tahun dari 27,79 persen menjadi 5,33 persen. 
Menurut Dedie yang sekaligus Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kota Bogor di Kota Bogor, persentase penurunan angka kekerdilan pada anak di daerahnya sejalan dengan misi Indonesia Emas tahun 2045 zero kekerdilan. “Presiden menargetkan tahun 2024 angka stunting nasional 14 persen. Kami ingin merespons, langkah Pemerintah Kota Bogor terhadap nasional, sehingga kami membuat konsepsi untuk bagaimana menurunkan tingkat stunting,” jelas Dedie. 
Dedie berpandangan, untuk menggapai tujuan menjadi Indonesia Emas 2045, tak hanya bicara soal pembangunan infrastruktur, namun juga indeks pembangunan manusia di setiap daerah. Hingga saat ini, ada beberapa faktor risiko penyebab terjadi kekerdilan secara nasional maupun di Kota Bogor, kata Dedie, di antaranya pernikahan remaja sebesar 39 persen, anak remaja dengan anemia 3,52 persen, ibu hamil dengan anemia 11,8 persen, dan faktor lainnya termasuk pandemi COVID-19 yang terjadi selama dua tahun ke belakang ini. 
Dedie menyampaikan penurunan angka kekerdilan Kota Bogor juga telah disampaikan pada Rapat koordinasi (Rakor) Teknis TPPS se-Provinsi Jawa Barat yang dilangsungkan di Grand Hotel Preanger, Jalan Asia – Afrika, Kota Bandung, pada Kamis 23 Juni 2022. “Competitiveness dari sumber daya manusia Indonesia ini bisa dibangun dengan cara menurunkan tingkat risiko stunting yang ada di seluruh Indonesia,” tutupnya. RIF




This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

source