TEMPO.CO, JakartaCacar monyet kini tengah mendapatkan perhatian dan menjadi perbincangan di tengah masyarakat. Pasalnya, WHO telah umumkan darurat wabah cacar monyet. Lalu bagaimana upaya oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terkait wabah tersebut? 
Cacar monyet disebabkan oleh virus human monkeypox (MPXV) orthopoxvirus dari famili poxviridae yang bersifat highlipatogenik atau zoonosis. Virus Ini pertama kali ditemukan pada monyet di tahun 1958, sedangkan kasus pertama pada manusia terjadi pada anak-anak pada tahun 1970. 
Menanggapi kondisi demikian, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan sedang berupaya untuk terus melakukan upaya pencegahan penyebaran cacar monyet di Indonesia.
Melansir dari laman upk.kemkes.go.id, berikut ini beberapa upaya yang saat ini tengah diberlakukan oleh pemerintah dalam hal ini Kemenkes dalam mengantisipasi penyebaran cacar monyet di Indonesia, diantaranya adalah:
1. Memperbarui situasi dan frekuensi question (FAQ) terkait monkeypox yang dapat diunduh melalui https://infeksiemerging.kemkes.go.id/.
2. Mengeluarkan Surat Edaran NOMOR: HK.02.02/C/2752/2022 Tentang Kewaspadaan Terhadap Penyakit Monkeypox di Negara non Endemis
3. Melakukan revisi pedoman pencegahan dan pengendalian cacar monyet untuk menyesuaikan situasi dan informasi baru dari WHO 
Dengan diberlakukannya beberapa hal diatas, diharapkan mampu meminimalisir kemungkinan tersebarnya kasus cacar monyet di tengah masyarakat Indonesia.
Selain itu, ada juga beberapa himbauan dari Kemenkes terkait upaya pencegahan penularan cacar monyet, meliputi:
1. Menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, misalnya cuci tangan dengan sabun, menggunakan masker serta menghindari polusi.
2. Menghindari kontak langsung dengan tikus atau primata dan membatasi makanan langsung dengan darah atau daging yang tidak dimasak dengan baik.
3. Menghindari kontak fisik dengan orang yang terinfeksi atau material yang terkontaminasi.
4. Menghindari kontak dengan hewan liar atau mengkonsumsi daging yang diburu dari hewan liar (bush meat). 
5. Orang yang baru melakukan perjalanan dari wilayah terjangkit monkeypox agar segera memeriksakan dirinya jika mengalami demam dan pembesaran kelenjar getah bening dalam waktu kurang dari 3 minggu.
6. Saat memeriksakan diri warga menginformasikan petugas kesehatan tentang riwayat perjalanannya.
7. Menghimbau petugas kesehatan agar menggunakan sarung tangan dan baju pelindung saat menangani pasien atau binatang yang sakit. 
Segera lakukan pemeriksaan apabila mengalami gejala cacar monyet seperti demam, dan muncul ruam ke fasilitas kesehatan terdekat, agar dapat segera mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat. 
RINDI ARISKA
Baca juga : WHO Desak Asia Tenggara Perkuat Pengawasan Cacar Monyet dalam Populasi Beresiko
Ikuti berita terkini dari Tempo.co di Google News, klik di sini.
Hepatitis C merupakan peradangan hati yang disebabkan oleh virus hepatitis C (HCV). Virus ini dapat menyebabkan hepatitis akut dan kronis.
Hingga saat ini, belum ada pengobatan spesifik yang diklaim mampu menyembuhkan cacar monyet. Namun obat berikut disebut bisa membantu.
Kasus cacar monyet di Amerika Serikat mengalami kenaikan sehingga kapasitas tes pun ditambah.
Mutasi monkeypox ini terlihat dari perbedaan karakteristik antara monkeypox di negara endemis dan nonendemis.
CDC meminta agar negara bagian melaporkan temuan kasus cacar monyet ke pemerintah federal meski pun itu baru dugaan.
Udara yang tercemar limbah B3 ternyata dapat membahayakan kesehatan. Padahal, manusia umumnya menghirup udara yang mengandung polutan limbah B3 ini.
Spanyol menjadi negara dengan jumlah kasus monkeypox terbanyak, kemudian disusul Amerika Serikat dan Prancis.
Hari ini, 28 Juli diperingati sebagai Hari Hepatitis Sedunia. Berikut ini kilas baliknya.
Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa dua fasilitas laboratorium sudah siap melakukan penyelidikan epidemiologi cacar monyet
Wagub DKI Riza Patria mengatakan Dinas Kesehatan DKI telah berkoordinasi dengan Kemenkes untuk mengantisipasi penyebaran cacar monyet.

source