SURYA.CO.ID, SURABAYA – Upaya menurunkan prevelensi angka stunting di Kota Surabaya menjadi salah satu program kerja Ikatan Istri Dokter Indonesia (IIDI) Cabang Surabaya.
Salah satunya dengan mengajak kader posyandu di sejumlah kelurahan di Surabaya untuk mengetahui tentang pencegahan dan penanganan stunting sedini mungkin.
“Ini adalah rangkaian program Bulan Bakti IIDI, dengan memberikan informasi pemahaman kepada masyarakat tentang pencegahan stunting serta dampak buruk akibat stunting,” ujar Dyan Asra Al Fauzi, Ketua IIDI Cabang Surabaya, Kamis (28/7/2022) disela kegiatan Bulan Bakti IIDI di Kecamatan Sukolilo.
Menurutnya sebagai organisasi medik sosial, Ikatan Istri Dokter Indonesia (IIDI) perlu untuk ikut serta mempelajari dan mensosialisasikan tentang masalah stunting ini.
“Dalam arti, pencegahan lebih efektif apabila dimulai dari keluarga, tidak hanya keluarga miskin tetapi seluruh keluarga Indonesia,” lanjutnya.
Karena itu pihaknya melakukan pendampingan dalam posyandu, untuk saat ini IIDI Cabang Surabaya memiliki Posyandu binaan, dan sudah turun langsung di Kelurahan Menur Pumpungan dan Keputih saat kegiatan Posyandu.
Tidak itu saja, IIDI Surabaya juga memasang sejumlah banner cara mencegah stunting sebagai upaya menurunkan angka prevelensi stunting yang di pasang di sejumlah kelurahan.
Camat Sukolilo Amalia Kurniawati menyambut baik upaya IIDI Cabang Surabaya yang ikut berkolaborasi bersama Pemkot Surabaya dalam penanganan masalah stunting.
Menurutnya stunting yang masih ada di wilayah Sukolilo bukan karena masalah warga tersebut miskin atau kaya. Tapi lebih ke masalah pola hidup.
Data yang tercatat masih ada 54 kasus stunting yang tersebar di wilayah Kecamatan Sukolilo.
“Paling banyak ada di Kelurahan Nginden, ini kami berharap bantuan dari IIDI untuk ikut menyelesaikan masalah stunting ini,” ungkapnya.
BACA BERITA SURYA.CO.ID DI GOOGLE NEWS LAINNYA

source