MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Kanker usus besar merupakan jenis kanker ketiga terbanyak di Indonesia. Kondisi ini diperkirakan akan terus bertambah seiring dengan kebiasaan mengonsumsi makanan yang tidak sehat dan genetic atau turunan. Kanker usus besar akibat genetic atau turunan ini berdasarkan penelitian juga termasuk tinggi daripada negara lain, kemungkinannya yakni hingga 10%. Tidak hanya itu, kanker usus besar ini juga menyerang tiga kali lipat lebih banyak pada usia muda kurang dari 50 tahun. Meski begitu, angin segar untuk mendeteksi dan mengobati kanker ini.
Ialah Susanti, Dosen Farmasi Universitas Muhammadiyah Purwokerto yang membuat Kit BioColoMelt-Dx (Alat diagnostic molekuler deteksi kanker usus besar). Alat ini baru saja memperoleh izin edar Kementrian Kesehatan Republik Indonesia pada 1 Juli 2022. BioColoMelt-Dx ini merupakan produk pertama diagnostic molekuler kanker yang diproduksi di Indonesia.
Awal Mula Pengembangan Kit BioColoMelt-Dx
“Awal mulanya memang saya sudah meneliti kanker saat S2 di Australia menelitinya tentang kanker secara umum, bagaimana kanker tumbuh di organ lain. Ketika saya mau lanjut S3 itu saya tau-tau terdiagnosa kanker usus, saat itu posisi saya stadium 3 dan saat itu saya di treatment di Sardjito. Nah setelah selesai treatment, naik turun, kondisi komplikasi, saya akhirnya tetap ingin melanjutkan riset dan akhirnya melanjutkan ke S3, ya saya pikir Allah sudah memberikan jalan, jadi sekalian riset s3nya tentang kanker usus,” kata Susanti saat ditemui redaksi Muhammadiyah.or.id, Senin (25/7) di sela-sela kunjungannya ke Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta.
Dari situ, Ia melakukan penelitian tentang bagaimana genetika kanker usus saat S3 di UK, University of Nottingham. “Setelah itu saya melihat kebetulan di Fakultas Kedokteran supervisor saya dokter, kemudian saya melihat bagaimana pelayanan untuk kanker usus di UK. Kemudian saya menyadari ternyata ada hal yang belum bisa dilaksanakan di Indonesia yang seharusnya mungkin sudah bisa. Salah satunya, bagaimana treatment pengobatan kanker itu disesuaikan dengan kondisi genetika pasien jadi tidak hanya berdasarkan stadium. Sekarang itu obatnya sudah berdasarkan mutasi gen. Jadi misalnya pasien X mutasi gennya A maka obatnya A. Tapi bila pasien Z mutasi gennya B maka obatnya B. Itulah yang akhirnya membuat saya membuat tes kit ini,” paparnya.
Berdasarkan pengalaman Susanti menerima perawatan di RS Sardjito memang saat itu sudah ada model tes kit yang sama tetapi masih sangat-sangat minim. Sekarang pun masih sangat minim implementasinya karena cukup mahal harganya, terlebih karena kitnya diimpor. Disebutnya, memang satu kali tes satu gen itu bisa mencapai 10 juta biayanya sehingga memang kurang banyak digunakan.
Kehadiran BioColoMelt-Dx Berikan Angin Segar Pengobatan yang Tepat
Namun dengan hadirnya Kit BioColoMelt-Dx ini memberi angin segar tak hanya pada pasien tetapi juga dunia Kesehatan Indonesia. Tujuan dari kit ini ialah pasien dapat mengetahui mutasi gennya, kemudian juga membantu treatment yang tepat, dan juga mendeteksi apakah pasien tadi mengalami kanker usus karena adanya genetic/turunan. “Mungkin sudah terlambat untuk pasien tapi itu penting untuk keluarganya yang sedarah, kakak, adik, anak, karena itu berarti mereka punya resiko tinggi untuk mendapatkan kanker sehingga kalau belum mencapai kanker kita bisa monitoring lebih sering dan bisa ke arah deteksi dini. Karena kalau kanker usus itu ditemukan di stadium 1 misalnya, survival ratenya itu bisa 90%,” paparnya.
Namun harus diingat, bahwa kit ini bukan untuk mendeteksi kondisi pasien yang sehat melainkan deteksi dini untuk pasien kanker usus besar yang punya kelainan genetic turunan yang kemudian hasilnya digunakan untuk acuan mendeteksi atau memonitoring pihak keluarga.
Kemudian untuk akurasinya sendiri, BioColoMelt-Dx ini sudah dibandingkan dengan tes serupa, yang memang dipakai di luar negeri dan harganya mahal. “Itu 100% hasilnya sama. Validasi klinis ini kita lakukan pada sampel pasien Indonesia itu bekerja sama dengan UGM Sardjito, UI RSCM, RS Dharmais, Kanker Dharmais, dan Universitas Riau,” tegasnya.
Selain itu, penggunaan kit ini juga cukup mudah. Pengaplikasiannya bisa dilakukan seperti alat untuk tes PCR Covid-19 hanya saja berbeda tujuan. Waktu produksi alat ini juga tidak lama, sehingga kit ini cukup banyak diproduksi.
Berhasil Atas Kerja Sama Banyak Pihak
“Saya sangat terbantu karena kit ini dikembangkan secara gotong royong,” ungkap Susanti. Jadi ada banyak pihak yang terlibat, tentunya selain rumah sakit yang telah disebutkan Susanti sebelumnya, UMP membantu di Studi Health Economic, kemudian BRIN,  juga Islamic Development Bank yang membiayai dengan dana hibah, serta Bio Farma yang memproduksi dan mengedarkan ke seluruh Indonesia.
“Kalau untuk dananya sendiri ukuran untuk riset seperti ini minim ya, tapi bisa minim karena semuanya gotong royong. Kita menjaga supaya harga jual reagennya itu tidak mahal seperti produk-produk impor yang biasanya, kita hitung kita akan 5 kali lebih murah. Contoh ; kalau biasanya 1 gen 10 juta, ini kita untuk 6 gen 2 juta saja,” terangnya.
Tantangan Pengembangkan BioColoMelt-Dx
Hadirnya alat ini bukan serta merta tanpa tantangan. Susanti menyebut bahwa ada beberapa hal yang menjadi tantangan dalam pengembangan alat ini. Pertama, mengkoordinasikan kolaborator. “Tapi alhamdulillah sepertinya semuanya paham bahwa ini misi sosialnya yang lebih kencang sehingga semua berkontribusi dengan caranya masing-masing,” kata dia. Kedua, pengadaan reagen. “Terutama reagen yang berfungsi sebagai pembanding, yang impor-impor itu, susah dan lama padahal kita harus membandingkan, harganya jadi 3x lebih mahal, dan pengirimannya cenderung lama,” imbuhnya.
Cara Mendapatkan BioColoMelt-Dx
Susanti menyampaikan bagi rumah sakit ataupun klinik yang menginginkan alat ini bisa langsung menghubungi pihak Bio Farma untuk pengadaan dan pemesanannya. Kemudian untuk harganya sendiri kurang lebih sekitar 20 jutaan untuk sekitar kapasitas 20 pasien.
BioColoMelt-Dx Bukti Indonesia Bisa Mandiri di Bidang Kesehatan
Susanti bersyukur BioColoMelt-Dx ini mendapat dukungan dari banyak pihak tak terkecuali Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin. Ia berharap bahwa temuannya ini dapat menjadi momentum menunjukkan bahwa bangsa Indonesia bisa mandiri dibidang yang mungkin terlihat sulit tapi dengan kolaborasi. Ini menjadi bukti, anak Indonesia bisa mengembangkan kit dengan kualitas yang sama.
“Semoga bermanfaat untuk pasien-pasien di Indonesia dan keluarganya karena hasil penelitian kami menunjukkan bahwa kemungkinan resiko kanker usus yang muncul karena ada kelainan genetic turunan di Indonesia itu cukup tinggi. Kalau di negara lain 2-3% di Indonesia itu lebih dari 10%. Memang fenomena pasien-pasien  kanker usus muda (<50 tahun) di Indonesia itu juga 3x lipat sehingga kalau kita bisa mengetahui pasien mana yang memiliki kanker usus genetik turunan ini bisa di monitoring secara rutin dan lebih dini bisa dicegah arahnya menjadi kanker dan itu secara health economic sangat cost efektif dan meringankan beban biaya pengobatan,” jelasnya.
Ke depannya, Susanti optimis untuk mengembangkan kit ini dengan inovasi-inovasi lainnya. “Saat ini Patgen startup yang kita dirikan untuk fokus mengembangkan ini sedang fokus juga untuk mengembangkan tes genetika kanker paru karena kanker paru termasuk no 2 tertinggi di Indonesia,” pungkasnya.

Follow Us
© 2022 Persyarikatan Muhammadiyah – Cahaya Islam Berkemajuan.
© 2022 Persyarikatan Muhammadiyah – Cahaya Islam Berkemajuan.

source